Mei 09, 2019

Semua Ada Waktunya

"Ooh gak mau ikut lah, Pah," kesekian kalinya Adiv anak lelakiku menyampaikan penolakannya untuk ikut bepergian ke luar kota—untuk suatu tugas—yang rencananya akan saya extend-kan menjadi liburan bareng keluarga. Kebetulan waktunya pas, ada long weekend.

"Terus entar kalo ditinggal makannya gimana?" tanyaku memancing agar timbul keraguan di hatinya.

"Makan mie instan," jawabnya tegas. 

"Mosok mau seharian makan mie terus? Ya bosenlah," pertanyaanku kembali membrondong berusaha mematahkan keyakinannya. 

"Goreng nasi, goreng telur dadar, goreng telur mata sapi, delivery steak ayam mabok, delivery ayam goreng. Banyak Pah yang bisa dimakan." Ternyata dia sudah mempersiapkan rencana untuk tinggal sendirian di rumah.

Memang saya selalu berusaha mengajarkan kemandirian bagi kedua anakku. Sedini mungkin mereka saya ajarkan agar bisa menyelesaikan tugas-tugas pribadinya. Dulu Mei—anak perempuanku, selalu 'nglendot' kalo deket-deket papah atau mamahnya. Saya selalu mendorong badannya agar tegak tidak 'nglendot', bukan karena risi dilendotin, tapi agar dia bisa berdiri tegak mandiri tanpa bersandar pada orang lain. "Itu alasannya, Mei," tuturku sok bijak berfilosofi menjelaskan hal ini padanya.

Bukan kali ini saja Adiv menolak diajak bepergian ke luar kota. Padahal dulunya sewaktu dia masih SD, ke mana saja kami bepergian dia selalu ikut. Malah kecenderungannya tidak mau ditinggal sendiri di rumah walau ditemenin Boboh sama mbak-nya.

"Kenapa sih gak mau ikut?" tanyaku pengen penjelasan berusaha paham dengan kondisi sekarang.

"Ada kegiatan di sekolah, Pah," jawabnya. 

"Kan jam 9 pagi sudah selesai, kita baru berangkat jam 11," argumenku gak mau kalah. 

"Minggunya sekolah minggu, Pah," ujarnya lagi. 

Aku cuma diam. Ini anak mirip papahnya, kalau sudah gak mau, stok alasannya banyak.

Dulu aku pernah tanya sama sepupuku yang sudah nikah dan punya anak. Waktu itu aku masih kuliah. "Masa mana lebih enak? Pacaran? Nikah? Atau punya anak?" 

Saudara sepupuku yang 10 tahun lebih dulu lahir, menjawab "Semua masa ada kesenangannya sendiri sendiri, gak bisa dibandingin kayak gitu." 

Waktu itu aku gak mudeng. Saya iyakan saja dengan tidak bertanya lebih lanjut.

Sekarang saya juga paham nasihat bijak seorang sahabat, "Jangan sia-siakan waktu kebersamaanmu dengan anak ketika masih kecil, karena ketika remaja nanti, mereka akan punya kegiatan masing-masing." 

Benar juga tuh kata bijak sahabat, walau saya lupa sahabat mana—yang begitu bijak—yang pernah ngomong gitu.

Masa kecil anak lakiku rasanya sudah berlalu, kini dia menjelma menjadi remaja. Untung di masa kecilnya sudah penuh dengan kebersamaan dalam keluarga. Sudah kenyang diuwel-uwel, diipuk-ipuk, digendong, dioyong-oyong. Aku tidak menyesali kalau dia sekarang sudah susah diajak bepergian bareng keluar kota.

Tugasku sekarang berubah, bukan lagi menguwel-uwel, mengipuk-ipuk. Tapi membekalinya dengan kemampuan menghadapi kehidupan masa depannya. //

Hubungi Kami

Perlu bantuan mengembangkan bisnis Anda?

Banyak perusahaan masih menjalankan bisnisnya hanya berdasarkan naluri atau kemampuan yang diwarisi secara turun-temurun. Mulailah bergerak maju untuk mengembangkan bisnis Anda!

Telepon:

+62 812.2635.0879

Email:

junziconsulting@gmail.com

Alamat:

Perum Griya Karang Indah Blok B5, Purwokerto