Mei 05, 2019

Agama dan Realita

Beberapa hari ini ada yang mengganggu pikiranku. Makan tidak enak, tidur kurang nyenyak. Aku sadar, ini efek karena bolak-balik mengunjungi temanku yang di rawat, kritis di rumah sakit. Usianya satu setengah kali dari usiaku, istrinya berusia satu koma tiga kali dari usiaku. Sudah, jangan dihitung berapa umurnya, ntar malah kamu gak bisa tidur ngitungin berapa usianya.

Yang mengganggu batinku, adalah permintaan istrinya yang minta dicarikan orang untuk menggantikan posisinya—untuk menjaga suaminya yang dalam kondisi kritis itu. Walaupun kritis, koma tidak sadarkan diri, ternyata ada fungsi-fungsi yang tidak dalam komando otak. Jadi walau koma, bisa tiba-tiba muntah, dan di kunjunganku kemarin kulihat dia sedang cegukan yang kagak brenti-brenti.

"Carikan orang yang bisa gantiin aku, please.... Aku sudah gak kuat kalo harus jagain terus, malem gak bisa tidur, siang apalagi," pinta istrinya dengan nada lemah. Aku sangat sadar, di usianya yang satu koma tiga kali dari usiaku, masa-masa ini akan terasa sangat sulit dilaluinya. Bebannya bukan cuman di fisik, tapi psikis juga, itu yang bikin tambah berat. Tak sadar, aku berujar "Lho, anak-anak ke mana?"

Mereka punya anak lebih dari 3, kurang dari 5, yang besar beda jenis kelaminnya, sisanya bergender yang sama. "Mereka sibuk dengan kerjaannya, paling cuman telpon tanya papah kondisinya bagaimana? Saya gak bisa menyalahkan anak-anak, mereka berkewajiban menghidupi keluarganya," sang mama yang melahirkan sepertinya berusaha melindungi anaknya dari serangan, supaya aku tidak melanjutkan ucapan dan pikiranku.

Dulu pernah, salah satu dari anak mereka waktu masih kecil, sakit parah. Papah mamahnya kalang kabut, cari utangan ke sana kemari untuk membayar biaya rumah sakit, mereka berjuang sekuat tenaga agar anaknya mendapat pengobatan layak dan terbebas dari sakit yang cukup mengkhawatirkan keselamatan jiwanya. Itu dulu, dan itu pengorbanan papah mamah nya.

Sekarang, papah yang sedang bimbang antara harus berpulang atau kembali berjuang, hanya ditemani mamah yang pusing bukan kepalang, tak kulihat anaknya datang. Realita dan ajaran agama sepertinya berada di jalan yang berbeda. Laku bakti pada orang tua, yang seharusnya utama, dihadapkan pada realita hidup di depan mata. Mereka keluarga yang ekonominya pas-pasan, anak-anaknya bekerja ikut orang lain, semuanya di luar kota, jadi pegawe lah bahasa mudahnya. Terlalu sering izin menemani papahnya, sebagai wujud bakti, bisa dipecat bos yang sakit hati.

Wah, wah, gimana menerapkan ajaran laku bakti dalam kondisi begini? Tulisanku ini bukan untuk menghakimi, lebih kepada cara belajar menjadi bijaksana, jangan terburu buru menyalahkan, karena yang mereka alami, kondisinya berbeda dengan saya dan Anda.

Yang aku sadari sekarang, orang tua rela berkorban demi anak-anaknya, dan anak sekali pun mau berkorban, belum cukup membayar lunas pengorbanan orang tuanya.

Makanya laku bakti penting, tinggal bagaimana mengaplikasikannya dalam perbuatan nyata. //

Hubungi Kami

Perlu bantuan mengembangkan bisnis Anda?

Banyak perusahaan masih menjalankan bisnisnya hanya berdasarkan naluri atau kemampuan yang diwarisi secara turun-temurun. Mulailah bergerak maju untuk mengembangkan bisnis Anda!

Telepon:

+62 812.2635.0879

Email:

junziconsulting@gmail.com

Alamat:

Perum Griya Karang Indah Blok B5, Purwokerto