MERAIH KEMAJUAN BERSAMA

JUNZI Consulting adalah Perusahaan yang bergerak di bidang Konsultan Bisnis dan Pelatihan dengan Pedekatan Berbasis Kearifan Timur, dengan Sistem Manajemen yang mengacu pada Standar Internasional.

Kami menawarkan Pendekatan Kearifan Timur sebagai pandangan hidup dan ilmu, serta berbagai Strategi Kehidupan yang menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan Kebutuhan, yang bisa diimplementasikan untuk Kepentingan Organisasi/Perusahaan.

Kearifan Timur merupakan gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai budaya yang baik, yang akan ditanamkan kepada orang-orang di dalam Perusahaan.

Di dalamnya terkandung pemikiran-pemikiran bijak yang mampu mengatasi problema semua sendi kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun usaha, kehidupan jasmani atau pun kehidupan rohani.

Dengan didukung oleh praktisi yang berpengalaman, kami hadir untuk memberikan nuansa yang berbeda bagi Perkembangan Perusahaan Anda.

Unduh CV Hubungi

Layanan Kami

Manajemen Perusahaan

Berbagai kegiatan dalam Perusahaan menjadi bidang kerja kami, dengan fokus pada pembuatan Peraturan Perusahaan, Tata Tertib Perusahaan, Penyusunan Struktur Organisasi, Pembuatan SOP, Pembuatan Job Description, Penentuan Target Perusahaan, dan Analisa terhadap pencapaian perusahan dalam kurun waktu tertentu.

Lebih Lanjut

Manajemen SDM

Meliputi kegiatan dari awal Karyawan bergabung sampai dengan Karyawan Pensiun, yaitu Bank Data Calon Karyawan, Hire Karyawan, Pelaksanaan Seleksi Karyawan baru dan wawancara, Penyiapan dokumen Kontrak kerja, Work Load Analysis, Penilaian Assessment Karyawan, sampai dengan pembinaan dan pelatihan tenaga kerja agar dapat bekerja sesuai dengan kompetensi pekerjaan yang diharapkan.

Lebih Lanjut

Manajemen Keuangan

Sebagaimana layaknya aliran darah dalam tubuh, demikian kami gambarkan perihal Keuangan dalam Perusahaan. Keuangan yang lancar adalah cerminan perusahaan yang sehat. Layanan kami dalam bidang keuangan meliputi Penyusunan Budget Perusahaan, Cash Flow, Budget Controling, dan Analisa Laporan Keuangan.

Lebih Lanjut

Manajemen Inventori

Meliputi analisa perputaran persediaan, dan penyusunan perangkat stok opname. Seringkali ditemukan perusahan mengalami kesulitan dalam mengelola persediaannya. Maka dengan pengalaman kami, kami akan memberikan solusi atas kesulitan Perusahaan dalam bidang Inventory.

Lebih Lanjut

LENSA


Lihat Lebih

Artikel Terbaru

Juli 22, 2019

Ada gak ya?

Sambil menunggu jadwal pesawat pukul 11.00 dan waktu baru menunjukan pukul 09.00, saya berusaha melawan kantuk—karena kurang nyenyaknya tidur di kereta yang bertolak dari Purwokerto pukul 00.30 dini hari. Dilanjut perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta yang jika ditempuh normal dalam durasi satu jam, di suasana sejuk ruang tunggu bandara karena AC berfungsi baik, terlintas pikiran yang menarik untuk dituangkan dalam kata-kata. 

So, ini yang saya pikirkan...

Mungkin gak ya, ada sebuah perusahaan yang tanpa aturan sama sekali, tapi bisa berjalan normal? 

Maksud lu? 

Gini loh... Perusahaan kan biasanya penuh dengan seabrek aturan kerja, aturan organisasi, SOP, tata tertib, atau apalah namanya yang kalian tau. Yang semua itu punya satu tujuan, yaitu agar karyawan dapat bekerja baik dan optimal serta maksimal produktivitasnya. Nah, saya tanya, bisa gak perusahaan berjalan tanpa ada aturan tertulis seperti yang saya sebutkan tadi?

Maksudnya? 

Hadeh... Emang ini pikiran gila sih, saya sadar kalau dirimu jadi kurang paham dengan ide pikirku, karena emang gak lazim, baca baik-baik deh.

Ada perusahaan yang gak punya aturan sama sekali, karyawan bebas sebebas-bebasnya.

Gak ada aturan jam kerjanya? Ya, gak ada. Bebas aja.

Masuk telat boleh? Boleh, bebas aja, terserah lu dah.

Pulang awal boleh? Boleh. 

Masuk telat trus pulang awal? Bebas terserah kamu saja.

Hmmm. Bolos kerja, diomelin gak? Gak lah. Bebas kok. Mau ngantor atau kagak gak dipermasalahin.

Ke kantor tapi gak ngapa ngapain? Gak masalah. Jalanin aja.

Target gak tercapai gimana? Ya gak apa-apa, karena perusahaan ini kagak pakai target-targetan.

Wah, mulai asek nih, gue demen kalo ada perusahaan kayak itu. Girang banget ya jadi karyawannya. Ya, silahkan.

Tapi, apa enak ya sama karyawan lain kalo gue begitu? Nah..itu masalah hati lu gmana? Lu malu kagak? Kalo urat kemaluan lu putus ya udah ngapain malu.

Nah trus gajian gue gimana? Ya terserah lu mau gajian berapa juga. Kalo lu rajin masuk, kagak pernah telat, presensi bagus, produktivitas oke, pastilah gaji memuaskan. 

Tapi gue kan sering bolos, telat, pulang awal, gajian gue kurang donk? Boleh kagak gaji gue tetep gede. Emang lu pikir ini perusahaan nenek moyang lu? Ya kagak ada lah hal kaya gitu.

Lah, pan katanya kagak aturan nya ini perusahaan? Ya memang bener, kagak ada aturannya. Berarti juga kagak ada aturan lu bisa terima gaji gede kalo males-malesan kan? Oh iya ya...

Tapi ini semua hanya kibulan lu kan? Gak ada kan yang kaya gitu? Yang mbolehin semau mau kita? Ada. 

Di mana? Di dunia yang sedang kita jalani ini. Lu mau ngapain Tuhan juga kagak ngelarang. Mau jadi orang baik, silahkan. Mau jadi orang jahat Tuhan tidak ngelarang. Mau jadi pelit ya hak lu, mau jadi dermawan Tuhan tidak suruh. Mau rajin Tuhan kagak urusan, mau malas Tuhan tidak murka. 

Oh iya yah, apa yang kita dapat sekarang adalah hasil dari apa yang sudah kita lakukan, dan apa yang kita lakukan sekarang, akan menjadi buah yang kita unduh nantinya. Bagaimana melakukannya, semau-mau lu dah... Tapi ingat lu juga yang akan menuai hasilnya. 

Udah ah, pikirku, gue mau boarding dulu. Sudah ada panggilan. //

Juli 17, 2019

Bertindaklah Sesuai Posisi

Kutatap lembar tabel pembayaran uang gedung bagi anakku yang masuk di SMA Negeri Favorit. Pagi ini acara pertemuan orang tua murid baru. Di lembar itu kulihat deretan tabel, ternyata uang sumbangan dikaitkan dengan tingkat pendapatan orang tua murid. Semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi pula sumbangan yang wajib dibayarkan.

"Beda sama tahun lalu, tahun lalu gak kayak gini, sekolah langsung menetapkan jumlahnya," ujar salah satu orang tua murid berkomentar.

Perubahan ini memancing banyak reaksi. Orang tua murid baru berjumlah 844 berkumpul membahas masalah ini sebelum inti acara pengarahan dari kepala sekolah dimulai. Suasana bising seperti sekawanan lebah yang digusur sarangnya.

"Wah! Ini gampang, kita tulis pendapatan minimal saja, jadi kena sumbangannya sedikit," menurut salah satu ibu dengan dandanan menornya berkomentar, seolah mengajari kita untuk mengikuti pemikirannya. "Kan sekolah tidak bisa mencari tau sebenar-benarnya pendapatan kita," imbuhnya menyakinkan orang tua lain yang kelihatan bimbang. 

Kutatap sekali lagi lembar itu. Posisi pendapatanku ada pada tabel paling tinggi. Artinya aku harus menganggarkan sumbangan pada nilai tertinggi pula.

Benar juga apa kata ibu itu, aku bisa saja memanipulasi pendapatan. Tinggal minta struk gaji aspal (asli tapi palsu) dari salah satu klien. Beres. Pasti klien mau bantu mengingat hubungan baik selama ini. Lumayan menghemat sumbangan. Selisihnya bisa buat biaya yang lain. Lagian isian ini tidak punya daya paksa, karena anakku sudah dinyatakan diterima sebagai siswa baru, bahkan sudah mengikuti kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah. Gak mungkin dikeluarkan gara gara jumlah sumbangan ini. Aman...

Eitts... Eitts... 

Tiba tiba ada suara lain dalam diriku. Suara yang halus tapi jelas terdengar. Nuraniku bicara memberi pertimbangan atas akalku. Kusadari pemikiranku yang tadi adalah hasil dari akalku yang digerakan oleh nafsu (jing). Dengan kesadaranku sebagai hasil dari pembelajaran agama, kini Nuraniku yang merupakan hasil dari Watak Sejati (Xing) kini andil bicara menyeimbangi hasil olah akalku.

Suara Nuraniku mengingatkan pada Ajaran Zhong Yong : "Seorang susilawan berbuat sesuai dengan kedudukannya, ia tidak ingin berbuat luar dari padanya." 

Jleb banget di hati...

Dengan lapang dada aku tandatangani formulir isian sesuai dengan posisiku berkaitan dengan pendapatan. Akalku tak meronta, kalah telak dengan nuraniku. 

Mungkin inilah yang dinamai bimbingan Agama. //

Juni 06, 2019

SPORTIVITAS

Riuh sorak sorai membahana menggetarkan gedung olah raga berkapasitas 500 orang ini. Sepuluh pemain dengan dua kostum yang berbeda, saling lari mengejar bola dan berusaha memasukannya ke ring lawan. Wasit pun kerap meniup peluit yang setia menempel di bibirnya, bila sang pemain lincah berlari, maka sang wasit lincah mencari kesalahan tiap pemain. Setiap peluit di bunyikan, ada gerakan tangan sebagai kode, memberitahukan pelanggaran apa yang terjadi.

Ini adalah pertandingan final basket ball antar SMP. Tim sekolah anakku, berhadapan dengan musuh bebuyutannya. Selalu saja dalam tiap kali pertandingan, final menyisakan tim sekolah anakku dan musuhnya yang sama, maka nafsu saling mengalahkan terpancar jelas dari kedua tim.

Anak perempuanku memang aktif bermain basket mewakili tim sekolahnya. Tubuhnya yang terkategori jangkung memudahkan dia dalam menyarangkan bola ke basket, guard posisinya tiap kali main. Saya jarang menonton dia dalam pertandingan pertandingan sebelumnya, kali ini agak spesial memang, karena ini adalah pertandingan terakhir di Tingkat SMP, dua hari sebelumnya udah Graduation, menandakan kelulusan, yang artinya kebersamaan dalam satu tim basket selama tiga tahun masa SMP harus berakhir juga. Ikut merayakannya, aku dan istriku hadir menonton.

Gegap gempita para pendukung kedua kubu, membuat atmosfer persaingan yang meningkatkan andrenalin, tak terkecuali saya. Larut dalam emosi, hati berdebar debar, jantung memompa keras tiap tim anaku menyerang atau bahkan diserang.

"Semangat... Semangat... Ayo, kamu pasti bisa!" teriakku urakan tiap tim anakku menyerang, 

Teriakanku semakin keras kalau bola berhasil masuk dan menambah nilai. " Horeee....." Kali ini sambil berdiri setengah loncat dari tempat duduk.

Perolehan nilai bersaing tipis. Kedua tim sama sama sudah saling tau kelebihan dan kekurangan lawan masing masing, sudah saling paham cara menyerang dan bertahan, maka perolehan nilai pun tipis-tipis, saling menyusul, kadang tim anakku menang, gak lama tim lawan unggul, itulah letak keramaian pertandingan final malam ini.

Skor menunjukan 12 lawan 7, tim anakku sementara unggul cukup jauh meninggalkan lawannya. Perhatianku tertuju pada lelaki yang sedari tadi paling heboh di antara penonton yang ada. Rupanya dia pelatih tim lawan anakku. Sedari tadi dia berteriak, menyebut dua angka 18...7 atau 6...21, akhirnya aku tau, dia memerintahkan pemainnya dengan memanggil nomor punggungnya, agar menjaga musuhnya sesuai nomor yang disebut kemudian. 

Gak maksud ya? Saya perjelas deh... Ketika dia berteriak 18...7, artinya dia memerintah anak latihnya yang bernomor punggung 18 untuk menjaga tim lawan yang bernomor punggung 7. Strategi yang mereka pakai rupanya man to man marking. Satu lawan diikuti satu orang, satu lawan satu.

Tim anakku semakin jauh meninggalkan lawannya, poin demi poin ditambahkan, lelaki itu semakin sering berteriak, semakin lantang, sampai akhirnya dia membuat kode telapak tangan kiri berdiri vertikal, dan tangan kanan tidur horisontal di atas tangan kiri... Time out! 

Dan wasit pun meniup peluit pendek dan mengulangi tanda yang diberikan oleh pelatih itu. Permainan berhenti, seluruh pemain berkumpul melingkar mengelilingi pelatih masing masing.

Aku lebih memperhatikan lelaki itu yang menjadi pelatih tim lawan anakku, dibanding memperhatikan aktivitas tim anakku. Pelatih anakku lebih stay cool, mungkin merasa di atas angin. Lagipula posisiku juga lebih dekat dengan tim lawan anakku. 

Gila, lelaki itu berteriak emosi memarahi anak latihnya. Emosi jelas terpancar di wajahnya, terang-terangan dia menyalahkan, bahkan kata goblog atau tolol pun sempat terucap. Kasihan banget, ada satu pemain yang sampai menundukan kepala, bukan karena menangis, tapi menyembunyikan wajah dari ludah yang muncrat karena pelatihnya yang marah berapi api... Hehehe.

"Ah, salah treatment nih pelatih," pikirku. Mana bisa meningkatkan mutu permainan dengan ngomel begitu? Saya sudah cukup banyak makan asam garam dalam menangani kasus perusahaan yang produktivitasnya rendah. Cara yang ditempuh pelatih, dengan ngomel, marah, berteriak bodoh, tolol, apabila diterapkan dalam perusahaan, justru kontraproduktif dan semakin menurunkan produktivitas.

Bawahan kalo diomelin bosnya, palingan juga diem kaga berani melawan, tapi hatinya tumbuh dendam dan rasa tidak suka. Mereka tidak membalas dengan kata-kata, tidak berani juga main fisik, tapi mereka akan membalas dengan cara-cara yang tidak pernah dipikirkan bosnya sama sekali. Ini bisa jadi lebih bahaya. Maka penanganan bawahan yang paling tepat, adalah membangkitkan moralnya, merubah mind set-nya melalui obrolan dan cerita motivasi, atau mengajaknya berbincang ringan, diselingi kopi, rokok, dan roti. Walau lama, tapi ini efektif. Tidak ada efek samping.

Time out selesai, pemain kembali ke lapangan. Tim lawan anakku, sekarang main bagai macan tumbuh sayap. Dengan lincah mereka menyusup masuk melewati para perintangnya. Poin demi poin bergulir menyusul ketertinggalannya. Tim anakku dibuat tidak berdaya, pelatih mereka semakin menggila dengan teriakannya. 

Dugaanku salah... Diomelin, dimarahin, ditolol-toloin, digoblog-goblogin, ternyata treatment ampuh bagi tim basket mereka. Bingung juga saya... Ini bertolak belakang dengan pengalamanku sebagai konsultan selama bertahun-tahun. Diam sejenak mencerna apa yang sedang terjadi, mencari makna dibaliknya. Gak masuk akal...

AHA... Aku tau jawabannya. SPORTIVITAS, itu yang membuat mereka tidak sakit hati ketika dimarahin atau di goblog-goblogin. Mereka menerima konsekuensi itu sebagai pemain. Mereka tidak sakit hati, karena mereka memberikan hak untuk marah pada pelatihnya, dan mereka konsekuen menjalani kewajibannya sebagai anak latih. Maka omelan pelatih, bukan menjadi pisau yang menyayat hati dan meninggalkan dendam, tapi justru menjadi bensin yang disiram di atas api, membakar semangat dan meningkatkan daya juang.

Peluit panjang dibunyikan, tanda pertandingan usai. Tim anakku harus rela menduduki peringkat juara dua. Kalah tipis, hanya 2 point saja. Ada yang saya pelajari dari menonton pertandingan basket ini. Arti dari SPORTIVITAS. 

Kayaknya para karyawan klienku perlu dilatih basket oleh pelatih ini deh. Agar mereka tahu arti kata SPORTIVITAS, agar produktivitas meningkat, agar kagak sakit hati dan dendam kalo bosnya marah-marah. //

Blog Kami

826 Perusahaan
Telah dikelola
378 Pelatihan
Telah dilaksanakan
1694 Pelanggan
Telah terpuaskan

Hubungi Kami

Perlu bantuan mengembangkan bisnis Anda?

Banyak perusahaan masih menjalankan bisnisnya hanya berdasarkan naluri atau kemampuan yang diwarisi secara turun-temurun. Mulailah bergerak maju untuk mengembangkan bisnis Anda!

Telepon:

+62 812.2635.0879

Email:

junziconsulting@gmail.com

Alamat:

Perum Griya Karang Indah Blok B5, Purwokerto