Mei 14, 2019

Kehilangan Kata-Kata

Saya membuat tulisan ini sambil mendengarkan celoteh seseorang di ujung HP saya. 

Sesekali saya mengucap, "Ya... ya... He-eh..." Sekadar supaya lawan bicara saya tidak bolak balik halo... halo... Dikira lost kontak kalo saya pasif diam saja. 

Canggih ya gadget jaman sekarang, bisa multitasking, bisa bikin tulisan sambil mendengar celoteh seseorang. Hal yang rasanya mustahil bisa dilakukan 10 tahun yang lalu. Kalo boleh sombong dikit, canggih juga otak saya, hehe.. bisa membagi kegiatan untuk tetap konsisten mengucap ya... ya... he eh, sambil membagi pikiran untuk menyusun kata-kata supaya tulisan ini terhidang bagus dan terserap baik di hati para pembacanya. 

Pernah denger gak ajaran yang intinya mengajarkan kita supaya rendah hati, sehingga kita banyak berkah, jangan sombong karena hanya akan mengundang kerugian? Saya berusaha lakukan itu, dan menjadi orang yang rendah hati itu tidak gampang. Saya sudah melalui jalan itu.

Menjadi rendah hati, artinya bersiap berlaku seperti orang bodoh, tidak banyak bicara tapi banyak unjuk karya. Ya, seperti sekarang ini, yang di ujung HP saya saat ini, sepertinya merasa lebih tahu dari saya. Dia bicara sok yakin, katanya sih mau merundingkan sesuatu, tapi bahasanya cenderung menggurui saya, bahkan mengatur saya agar mau mengikuti pola pikirnya. Padahal, apa yang dia bahas sangat saya kuasai, sangat saya pahami perkembangan kasusnya, karena dalam hal yang dia bahas, sebenarnya sayalah decision maker akhirnya.

Paham ya perasaan saya? Ya... ya... He eh, lah kok diiyakan terus toh? Kok saya cuman he eh, he eh terus? Gak pengen toh melawan ucapannya dia biar saya gak kelihatan bodoh di matanya? Tunjukan bahwa wewenang ada di tanganku. 

Jujur pengen sih saya lakukan itu, membukakan matanya, emang dia pikir ngomong sama siapa? Aku loh, yang punya wewenang memutuskan hal ini. Itu versi sombongnya, tapi gak saya lakukan, kenapa? 

Ya itu tadi. Kesombongan hanya akan mengundang kerugian. Saya pilih menjadi pribadi yang rendah hati, siap dinilai menjadi orang bodoh, yang tidak punya wewenang, dan sepertinya tidak tahu masalah. Inilah dulu yang membuatku hipertensi, naik darah, karena menahan amarah yang dipendam. Tapi sekarang sudah lihai kok. Kalau mulai merasa emosi terusik, tarik nafas dan bilang ya..ya... Hembuskan sambil bilang he eh, tensi gak akan naik. 

Saya jadi paham peribahasa, Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Elu mau ngomong apapun juga, jawaban gue cuman ya... ya, he eh... Kira-kira begitulah tafsir peribahasanya. 

Pernah baca ini juga gak? 
Kepada orang yang patut diajak bicara, kita tidak bicara, artinya kita kehilangan orang.

Kepada orang yang tidak patut diajak bicara, kita ajak bicara juga, maka kita akan kehilangan kata-kata. 
Bener banget ini. 

Jadi kalau saya cuma bilang ya..ya dan he eh, bukan karena saya bodoh ya, tapi karena saya kagak mau kehilangan kata-kata. 

Ya... ya... He eh... 

Hebat juga yang di ujung HP saya ini. Tulisan sudah selesai, siap upload di web-ku, tapi belum ada tanda-tanda dia akan menyudahi. Ya sudahlah. Rendah hati memang tidak mudah. 

Ya... ya... He eh.... //

Hubungi Kami

Perlu bantuan mengembangkan bisnis Anda?

Banyak perusahaan masih menjalankan bisnisnya hanya berdasarkan naluri atau kemampuan yang diwarisi secara turun-temurun. Mulailah bergerak maju untuk mengembangkan bisnis Anda!

Telepon:

+62 812.2635.0879

Email:

junziconsulting@gmail.com

Alamat:

Perum Griya Karang Indah Blok B5, Purwokerto