Mei 01, 2019

Kegemilangan Ada Padamu


Sembari menunggu kereta api berangkat menuju ke Semarang, dalam perjalananku memenuhi undangan Matakin Kota Semarang untuk menjadi salah satu narasumber di acara yang diadakan mereka, kunikmati gorengan Lumpia kiriman dari sahabat yang kini tengah berjuang mengembangkan bisnis jualan Lumpia. 

 "Cicipin ya pak, dan mohon masukannya," begitu katanya waktu mengirimkan sampel produksinya.

Sambil mengunyah dan mengeksplorasi rasa yang menggelitik lidahku, citaku melayang jauh ke depan, intuisiku sebagai Konsultan Bisnis menyusun tabir prediksi nasib Lumpia yang kukunyah perlahan ini.

Ingatanku pada pembuat Lumpia ini terkuak menganga. Dia seorang lelaki bertato yang usianya tidak jauh di bawahku. Inilah tipe manusia jenis ketiga, menurut Ajaran Zhong Yong, yang karena pengalaman hidupnya penuh derita membuatnya mencapai bijaksana. Lembar kehidupannya sebelumnya kelam, gelap. 

Aku masih teringat katanya waktu awal berkenalan "Hidupku itu kayak teka teki silang, hanya ada mendatar dan menurun, tidak ada kata naik," bertubi-tubi kesialan mampir dalam kehidupannya, penderitaan dan kesialan kayaknya pernah menjadi sobat karib yang susah dipisahkan.

Perjalanan Rohaninya pun tidak menentu, berbagai keyakinan pernah mengisi lubang iman yang ada di hatinya. Entah apa yang membuatnya menambatkan hati pada iman Khonghucu sampai saat ini. 

"Saya merasa tenang, dan tau bagaimana harus menata hidup melalui ajaran Kongzi," hanya itu yang kuingat ketika bertanya, apa yang membuatnya mengimani Khonghucu. Tidak dapat dipungkiri, dia mengenal Khonghucu memang dari saya, ketika seringkali dia kuminta menjadi supir manakala aku bertugas mengisi kebaktian di beberapa kota. Disitulah awal perjalanan rohaninya bertemu dengan ajaran yang kuno, luhur lagi mulia itu.

Ingatanku terputus ketika kondektur memeriksa tiket. Mulutku mengunyah menghabiskan gigitan terakhir pada ujung Lumpia yang sedikit keras. Rasanya lumayan enak, asin dan manisnya imbang. Kalau rasa ini dijaga, tetap menggunakan standar bahan yang baik, tidak tergoda menggantinya dengan bahan yang lebih murah untuk melipatkan laba, pasti akan banyak konsumen loyal dan menjadi langganan setia.

Bila dia cermat mengelola keuangannya, bila pendapatan bisa menutup biaya, maka banyak sisa yang bisa didapat. Bila bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, maka hidupnya terhindar dari konsumerisme yang pernah menjadi label cap dirinya. 

Pernah dulu aku mencelanya "Mas, HP mu itu lho ada 2, emang buat apa saja?? Gak boros ngasi makan pulsanya? Saya yang punya usaha mapan saja, hanya pake satu HP, kamu makan saja susah, HP dua biji, nomornya ada 4 pula." 

Jawabnya kala itu, sambil bergurau "Aku kere, Pak, tapi wani sombong." Gubrak... 

Bila dia bisa membina diri sesuai ajaran Mengzi bahwa, "Untuk memelihara Hati, tiada yang lebih baik daripada mengurangi keinginan. Kalau orang dapat mengurangi keinginan, meskipun ada kalanya tidak dapat menahannya, niscaya tiada seberapa."

Teruslah berusaha membina diri, Bro. Tetapkan hati untuk senantiasa berjalan menempuh Jalan Suci. Berpeganglah pada Ajaran Besar, bahwa "Sesungguhnya untuk memperoleh Kegemilangan itu hanya tergantung pada usaha orang itu sendiri."

Kuatkan iman, yakin hanya kebajikan Tuhan berkenan. //

Hubungi Kami

Perlu bantuan mengembangkan bisnis Anda?

Banyak perusahaan masih menjalankan bisnisnya hanya berdasarkan naluri atau kemampuan yang diwarisi secara turun-temurun. Mulailah bergerak maju untuk mengembangkan bisnis Anda!

Telepon:

+62 812.2635.0879

Email:

junziconsulting@gmail.com

Alamat:

Perum Griya Karang Indah Blok B5, Purwokerto