Juni 06, 2019

SPORTIVITAS

Riuh sorak sorai membahana menggetarkan gedung olah raga berkapasitas 500 orang ini. Sepuluh pemain dengan dua kostum yang berbeda, saling lari mengejar bola dan berusaha memasukannya ke ring lawan. Wasit pun kerap meniup peluit yang setia menempel di bibirnya, bila sang pemain lincah berlari, maka sang wasit lincah mencari kesalahan tiap pemain. Setiap peluit di bunyikan, ada gerakan tangan sebagai kode, memberitahukan pelanggaran apa yang terjadi.

Ini adalah pertandingan final basket ball antar SMP. Tim sekolah anakku, berhadapan dengan musuh bebuyutannya. Selalu saja dalam tiap kali pertandingan, final menyisakan tim sekolah anakku dan musuhnya yang sama, maka nafsu saling mengalahkan terpancar jelas dari kedua tim.

Anak perempuanku memang aktif bermain basket mewakili tim sekolahnya. Tubuhnya yang terkategori jangkung memudahkan dia dalam menyarangkan bola ke basket, guard posisinya tiap kali main. Saya jarang menonton dia dalam pertandingan pertandingan sebelumnya, kali ini agak spesial memang, karena ini adalah pertandingan terakhir di Tingkat SMP, dua hari sebelumnya udah Graduation, menandakan kelulusan, yang artinya kebersamaan dalam satu tim basket selama tiga tahun masa SMP harus berakhir juga. Ikut merayakannya, aku dan istriku hadir menonton.

Gegap gempita para pendukung kedua kubu, membuat atmosfer persaingan yang meningkatkan andrenalin, tak terkecuali saya. Larut dalam emosi, hati berdebar debar, jantung memompa keras tiap tim anaku menyerang atau bahkan diserang.

"Semangat... Semangat... Ayo, kamu pasti bisa!" teriakku urakan tiap tim anakku menyerang, 

Teriakanku semakin keras kalau bola berhasil masuk dan menambah nilai. " Horeee....." Kali ini sambil berdiri setengah loncat dari tempat duduk.

Perolehan nilai bersaing tipis. Kedua tim sama sama sudah saling tau kelebihan dan kekurangan lawan masing masing, sudah saling paham cara menyerang dan bertahan, maka perolehan nilai pun tipis-tipis, saling menyusul, kadang tim anakku menang, gak lama tim lawan unggul, itulah letak keramaian pertandingan final malam ini.

Skor menunjukan 12 lawan 7, tim anakku sementara unggul cukup jauh meninggalkan lawannya. Perhatianku tertuju pada lelaki yang sedari tadi paling heboh di antara penonton yang ada. Rupanya dia pelatih tim lawan anakku. Sedari tadi dia berteriak, menyebut dua angka 18...7 atau 6...21, akhirnya aku tau, dia memerintahkan pemainnya dengan memanggil nomor punggungnya, agar menjaga musuhnya sesuai nomor yang disebut kemudian. 

Gak maksud ya? Saya perjelas deh... Ketika dia berteriak 18...7, artinya dia memerintah anak latihnya yang bernomor punggung 18 untuk menjaga tim lawan yang bernomor punggung 7. Strategi yang mereka pakai rupanya man to man marking. Satu lawan diikuti satu orang, satu lawan satu.

Tim anakku semakin jauh meninggalkan lawannya, poin demi poin ditambahkan, lelaki itu semakin sering berteriak, semakin lantang, sampai akhirnya dia membuat kode telapak tangan kiri berdiri vertikal, dan tangan kanan tidur horisontal di atas tangan kiri... Time out! 

Dan wasit pun meniup peluit pendek dan mengulangi tanda yang diberikan oleh pelatih itu. Permainan berhenti, seluruh pemain berkumpul melingkar mengelilingi pelatih masing masing.

Aku lebih memperhatikan lelaki itu yang menjadi pelatih tim lawan anakku, dibanding memperhatikan aktivitas tim anakku. Pelatih anakku lebih stay cool, mungkin merasa di atas angin. Lagipula posisiku juga lebih dekat dengan tim lawan anakku. 

Gila, lelaki itu berteriak emosi memarahi anak latihnya. Emosi jelas terpancar di wajahnya, terang-terangan dia menyalahkan, bahkan kata goblog atau tolol pun sempat terucap. Kasihan banget, ada satu pemain yang sampai menundukan kepala, bukan karena menangis, tapi menyembunyikan wajah dari ludah yang muncrat karena pelatihnya yang marah berapi api... Hehehe.

"Ah, salah treatment nih pelatih," pikirku. Mana bisa meningkatkan mutu permainan dengan ngomel begitu? Saya sudah cukup banyak makan asam garam dalam menangani kasus perusahaan yang produktivitasnya rendah. Cara yang ditempuh pelatih, dengan ngomel, marah, berteriak bodoh, tolol, apabila diterapkan dalam perusahaan, justru kontraproduktif dan semakin menurunkan produktivitas.

Bawahan kalo diomelin bosnya, palingan juga diem kaga berani melawan, tapi hatinya tumbuh dendam dan rasa tidak suka. Mereka tidak membalas dengan kata-kata, tidak berani juga main fisik, tapi mereka akan membalas dengan cara-cara yang tidak pernah dipikirkan bosnya sama sekali. Ini bisa jadi lebih bahaya. Maka penanganan bawahan yang paling tepat, adalah membangkitkan moralnya, merubah mind set-nya melalui obrolan dan cerita motivasi, atau mengajaknya berbincang ringan, diselingi kopi, rokok, dan roti. Walau lama, tapi ini efektif. Tidak ada efek samping.

Time out selesai, pemain kembali ke lapangan. Tim lawan anakku, sekarang main bagai macan tumbuh sayap. Dengan lincah mereka menyusup masuk melewati para perintangnya. Poin demi poin bergulir menyusul ketertinggalannya. Tim anakku dibuat tidak berdaya, pelatih mereka semakin menggila dengan teriakannya. 

Dugaanku salah... Diomelin, dimarahin, ditolol-toloin, digoblog-goblogin, ternyata treatment ampuh bagi tim basket mereka. Bingung juga saya... Ini bertolak belakang dengan pengalamanku sebagai konsultan selama bertahun-tahun. Diam sejenak mencerna apa yang sedang terjadi, mencari makna dibaliknya. Gak masuk akal...

AHA... Aku tau jawabannya. SPORTIVITAS, itu yang membuat mereka tidak sakit hati ketika dimarahin atau di goblog-goblogin. Mereka menerima konsekuensi itu sebagai pemain. Mereka tidak sakit hati, karena mereka memberikan hak untuk marah pada pelatihnya, dan mereka konsekuen menjalani kewajibannya sebagai anak latih. Maka omelan pelatih, bukan menjadi pisau yang menyayat hati dan meninggalkan dendam, tapi justru menjadi bensin yang disiram di atas api, membakar semangat dan meningkatkan daya juang.

Peluit panjang dibunyikan, tanda pertandingan usai. Tim anakku harus rela menduduki peringkat juara dua. Kalah tipis, hanya 2 point saja. Ada yang saya pelajari dari menonton pertandingan basket ini. Arti dari SPORTIVITAS. 

Kayaknya para karyawan klienku perlu dilatih basket oleh pelatih ini deh. Agar mereka tahu arti kata SPORTIVITAS, agar produktivitas meningkat, agar kagak sakit hati dan dendam kalo bosnya marah-marah. //

Hubungi Kami

Perlu bantuan mengembangkan bisnis Anda?

Banyak perusahaan masih menjalankan bisnisnya hanya berdasarkan naluri atau kemampuan yang diwarisi secara turun-temurun. Mulailah bergerak maju untuk mengembangkan bisnis Anda!

Telepon:

+62 812.2635.0879

Email:

junziconsulting@gmail.com

Alamat:

Perum Griya Karang Indah Blok B5, Purwokerto